Halo teman-teman, akhirnya saya mulai menulis blog lagi setelah dilanda Pandemi COVID-19 di tahun lalu (2020) dan masih terjadi sampai sekarang yang membuat kita semua merasakan kondisi sulit. Untuk kalian yang sudah berjuang jangan sampai putus asa, harus selalu tetap semangat untuk berkarya dan semoga Pandemi COVID-19 cepat berlalu, aamiin.
Di tulisan blog kali ini, saya akan menceritakan perjalanan saya ke Malang (lagi) setelah pada tahun 2019 traveling ke Malang juga. Tentunya, kali ini perjalanan saya berbeda tujuan dengan yang sebelumnya, tujuan saya adalah untuk mendaki ke Gunung Buthak. Selain itu saya juga sekalian mempromosikan produk saya yaitu Choconesia.
Sebenarnya, postingan ini ingin saya tulis dari 1 Desember 2020. Tetapi, karena satu dan lain hal saya baru sempat menulis pada hari ini. Yuk silahkan dibaca :)
PROSEDUR RAPID TEST DI STASIUN
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, traveling kali ini saya harus melakukan Rapid Test karena adanya Pandemi COVID-19, sehingga membuat orang-orang yang ingin berpergian wajib menjalani berbagai prosedur yang ditetapkan Pemerintah Indonesia seperti Rapid Test, Swab Test dan lain-lain.
Gambar diatas adalah hasil Rapid Test saya saat di stasiun, Alhamdulillah hasilnya Non-Reaktif yang berarti saya tidak terinfeksi virus COVID-19. Selain di stasiun, Rapid Test juga bisa dilakukan di tempat keberangkatan transportasi yang kalian gunakan seperti Bandara dan bisa juga di Rumah Sakit. Yang membedakan adalah biaya nya, saya memilih Rapid Test di stasiun karena lebih murah.
Berikut biaya Rapid Test yang saya ketahui di:
-Stasiun: Rp80.000
-Rumah Sakit: Rp150.000
-Bandara: Bervariasi tergantung setiap Bandara
PERJALANAN MENUJU MALANG
Seperti biasanya, saya selalu menggunakan jasa Kereta Api Indonesia ketika ke Malang. Walaupun menghabiskan waktu yang cukup lama tetapi saya bisa merasakan seru nya perjalanan ketika ke menggunakan Kereta Api dibandingkan dengan Bis.
Pada saat Pandemi ini, kursi tidak terisi penuh karena prosedur larangan dari Pemerintah Indonesia. Di bangku yang saya duduki, hanya terisi 2 orang yang di set berhadapan karena saya menggunakan kereta kelas ekonomi. Selain itu, Kereta Api Indonesia juga memberikan Face Shield secara Gratis! demi keselamatan para pengguna jasa Kereta Api.
Kalian bisa membeli tiket yang lebih murah di aplikasi KAI Acces dan di loket stasiunnya langsung. Dibandingkan dengan aplikasi pihak ke-3 yang sedikit lebih mahal sekitar Rp7.000 - Rp15.000. Mungkin itu pengalaman yang bisa saya bagikan ketika kalian ingin membeli tiket kereta api :)
PERSIAPAN MENDAKI GUNUNG BUTHAK
Setelah sampai beberapa hari di Malang, akhirnya saya melakukan persiapan bersama 2 orang teman untuk mendaki Gunung Buthak. Persiapan yang cukup matang, tetapi masih ada beberapa hal yang kurang untuk dilengkapi. Jadi, kami bertiga singgah terlebih dulu ke salah satu tempat penyewaan alat gunung untuk melengkapi kekurangan alat kami.
Saya lupa apa saja alat yang kami sewa, seinget saya alat-alat yang disewa seperti sepatu, tenda dan mungkin masih ada lagi. Kami mendapatkan harga sewa yang lebih murah karena temen saya sudah kenal dengan pemilik tempat penyewaan alat gunung tersebut. Mungkin kalian bisa praktekan ketika traveling, ketika mempunyai relasi yang luas bisa menguntungkan kita juga.
HARGA TIKET MASUK GUNUNG BUTHAK
Setelah sampai di Pos Masuk Gunung Buthak, saya langsung membeli tiket masuk untuk kami bertiga seharga Rp10.000/orang. Harga yang tergolong umum untuk tiket masuk di beberapa gunung Indonesia, kalau kalian menemukan harga tiket masuk yang lebih mahal di gunung lain itu mungkin sudah di kelola Pemda atau yang lainnya.
Saya mendaki pada hari Senin, saat itu cukup sepi seperti yang saya lihat di daftar mendaki hanya sekitar 20an orang. Kami pun tetap melanjutkan pendakian ke Gunung Buthak, cuaca saat itu cukup bersahabat cerah berawan.
MENDAKI GUNUNG BUTHAK
Dalam perjalanan saat di tengah hutan, kami sangat jarang bertemu pendaki yang lainnya hingga beberapa jam. Untungnya kami memiliki bekal yang cukup, sekali dua kali kami istirahat sejenak untuk mengatur pernafasan supaya bisa lebih tenang. Setelah beberapa jam kemudian, kami tiba di pos 3. Kami berinisiatif langsung mendirikan tenda untuk camp sampai pagi, setelah tenda selesai didirikan benar saja hujan deras tiba-tiba datang. Kami pun bergegas masuk ke dalam tenda dan beristirahat sampai pagi.
Singkat cerita, sebelum pagi tiba. Sekitar tengah malam, salah satu teman saya mengalami sesak nafas (asma). Untungnya saya punya pengalaman untuk penyakit itu, jadi saya bisa memberi tahu cara menangani penyakit tersebut. Alhamdulillah dia masih bisa bertahan dan paginya sudah membaik. Pagi pun tiba, ternyata kami kesiangan. Saya lupa, kira-kira sekitar jam 7 atau 8 pagi kami baru bangun. Setelah beberapa kali diskusi, akhirnya saya dan satu orang teman melanjutkan perjalanan, sedangkan teman saya yang sakit tadi malam lebih memilih untuk beristirahat di tenda.
Di tengah perjalanan, sekitar 30 menit perjalanan dari tenda. Saya mengalami mual dan pusing, yap benar saja itu karena saya lupa sarapan pagi. Saya benar-benar lupa, karena sudah 2 tahun tidak mendaki jadi kurang sadar apa yang saya butuhkan untuk persiapan diri sendiri. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian karena saya tidak yakin dengan keadaan saya saat itu. Ditambah pendakian saat itu sangat sepi, saya memikirkan kalau terjadi apa-apa nanti tidak ada yang bisa menolong kami. Dan akhirnya itu menjadi kegagalan mendaki saya yang pertama kali sejak 2014.
Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan sesuai dengan perjalanan yang saya alami waktu itu, untuk kamu yang ingin kesini jangan lupa utamakan keselamatan ya. Terima kasih sudah membaca blog ini dan jangan lupa untuk membaca tulisan blog saya selanjutnya.





