13 October 2019

Solo Backpacker #Part2 - Pertama Kali ke Gunung Bromo


           Halo teman-teman, di tulisan blog kali ini saya akan melanjutkan cerita dari tulisan sebelumnya tentang Solo Backpacker Ke Malang & Batu. Saya akan menceritakan perjalanan mulai dari Malang sampai ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan menggunakan motocross, serta biaya-biaya apa saja yang saya keluarkan untuk bisa pergi kesana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya di bawah ini.

LATAR BELAKANG GUNUNG BROMO


           Gunung Bromo atau dalam bahasa Tengger dieja "Brama", adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakin Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.

           Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi, Ia mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. (Sumber : Wikipedia)

PERJALANAN MENUJU GUNUNG BROMO


           Pertama, saya mencari sewa motocross dari daerah Universitas Muhammadiyah Malang. Setelah mencari-cari akhirnya saya mendapatkan sewa untuk 2 motocross selama 1 hari. Saya berangkat dari daerah UMM sekitar jam 01.30 WIB pagi dan mengendarai dengan kecepatan rata-rata 40km/jam yang rencana nya melewati jalur belakang yang tembus langsung ke penanjakan Gunung Bromo.

           Ternyata setelah hampir sampai di dekat daerah penanjakan, jalan yang saya lalui ditutup karena ada pengaspalan jalan. Sampai disana sekitar jam 03.30 WIB pagi menjelang subuh, dengan terpaksa saya harus memutar balik ke arah Tumpang yang cukup lumayan jauh. Akhirnya saya balik arah dan adzan subuh pun berkumandang, saya memutuskan untuk sholat di masjid terlebih dahulu.

           Setelah itu saya melanjutkan perjalanan lagi, dalam perjalanan putar balik saya sudah pada jam 04.30 WIB pagi, dengan menyesal saya tidak bisa mendapatkan moment sunrise Gunung Bromo karena tidak sempat untuk mengejar waktu sampai gerbang tumpang. Akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan dan sampai gerbang tumpang sekitar jam 07.00 WIB pagi.

TEMPAT LOKET GERBANG TUMPANG


           Setelah saya sampai di pintu gerbang tumpang, selanjutnya saya membeli tiket di loket seperti yang ada di foto atas. Kalian bisa membaca untuk info harga tiket yang disediakan oleh pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Berikut rincian biaya yang saya keluarkan mulai dari sewa motor sampai pada saat membeli tiket masuk Bromo, sebagai berikut :

- Motocross : Rp250.000/hari (exclude bensin/dapet sisaan dari penyewa sebelumnya)
- Tiket Masuk Motor : Rp5.000/motor
- Tiket Masuk Tumpang : Rp.22.500/orang

Note : Harga tiket masuk pada weekdays dan weekend itu berbeda ya teman-teman, dan untuk harga tiket domestik dan non-domestik juga berbeda. Jadi dibaca terlebih dahulu gambar diatas yaa.

SAMPAI DI TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU


           Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dengan menggunakan motocross selama ± 8 jam karena terlalu santai dan beberapa masalah membuat perjalanan saya sangat terganggu. Akhirnya saya sampai di Gunung Bromo, pertama kali masuk kawasan Gunung Bromo saya merasa takjub dengan keindahan nya.

           Sesampai nya disana, saya mencari tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak sambil menyantap makan siang yang dibawa semenjak awal berangkat. Tidak lama saya beristirahat di tempat ini ternyata ada yang melakukan sesi foto prewed. Heem, hawa-hawa baper mulai menyelimuti hati saya waktu itu, karena saya jadi ingin melakukan foto prewed juga disini.


           Setelah cukup lama bersantai di dekat gerbang masuk kawasan Gunung Bromo, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Tidak mudah untuk sampai ke Gunung Bromo ini, karena kamu akan melewati labilnya lautan pasir yang menyulitkan para pemotor cross untuk bisa sampai ke Gunung Bromo. Kamu di wajibkan untuk memakai motocross karena jika kamu menggunakan selain motocross itu akan lebih sangat sulit bisa cepat sampai ke Gunung Bromo.

           Cukup memakan waktu untuk melewati lautan pasir ini, karena beberapa kali saya harus berhenti karena jatuh. Tapi kamu juga bisa melihat keindahan lembah atau tebing yang terlihat seperti lukisan tangan manusia, jika kamu kesini untuk pertama kali pasti akan takjub melihatnya. Dan akhirnya setelah cukup lama, saya sampai di dekat Gunung Bromo. Tidak lupa saya mengabadikan moment ini beberapa kali untuk bisa update di sosial media, hehe.

           Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan sesuai dengan perjalanan yang saya alami waktu itu, untuk kamu yang ingin kesini jangan lupa utamakan keselamatan ya. Terima kasih sudah membaca blog ini, jangan lupa untuk membaca tulisan blog saya selanjutnya.

12 October 2019

Solo Backpacker #Part1 - Mengelilingi Kota Malang & Batu


           Halo teman-teman, kali ini saya akan membahas tentang traveling selama di kota Malang. Saya melakukan solo backpacker ke Malang selama 7 hari dari tanggal 24-30 September 2019, disini saya akan bercerita saat mulai berangkat dari Jakarta sampai di Malang serta hal lainnya selama berada disana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya dibawah ini.

           Banyak hal yang berkesan selama perjalanan saya ke Malang, mulai naik ojek online sampai berbincang dengan orang-orang yang sebangku di kereta. Alhamdulillah hal itu menambah wawasan saya, contohnya seperti kopi kacang hijau yang ada di daerah Tulungagung. Ternyata disana banyak warkop (warung kopi) dengan sajian biji kopi khas daerah tersebut, biasanya warkop disana dilengkapi dengan wifi dengan target pasar komunitas pecinta burung dan para gamers.

PERJALANAN DARI JAKARTA KE MALANG


           Saya melakukan solo backpacker dari Jakarta ke Malang PP menggunakan transportasi kereta api untuk perjalanan pergi dan pulang. Kenapa saya menggunakan kereta api ? karena saya lebih suka menggunakan transportasi kereta api dibanding transportasi lainnya walaupun dari segi waktu memang cukup memakan banyak waktu tetapi dari segi biaya lebih murah dibanding menggunakan pesawat dan bis. Saya akan menjelaskan secara rinci berapa biaya yang saya keluarkan untuk transportasi dari Jakarta ke Malang PP menggunakan kereta api.

Harga tiket kereta yang saya pesan melalui apps tiketing per september 2019, sebagai berikut :

- Majapahit : Rp270.000 (Pergi)
- Matarmaja : Rp109.000 (Pulang)
- Pajak : Rp15.000
- Voucher Promo : Rp78.800

Total Biaya : Rp315.200

Note : Sebelumnya saya melakukan survey beberapa apps tiketing untuk mencari voucher promo yang terbesar, dan akhirnya saya menemukan diskon 20% dari total harga tiket di apps Mister Aladin.

VIEW SUNRISE DI PERJALANAN KE MALANG


           Ini adalah perjalanan solo backpacker pertama saya serta pertama kalinya juga ke daerah Jawa Timur, sedikit cuek dan nekat untuk melakukan perjalanan kali ini. Saya berangkat dari Jakarta (St. Pasar Senen) ke Malang (St. Malang Kota Lama) menggunakan kereta api Majapahit, dari segi harga terlihat perbedaan yang cukup lumayan dengan kereta api Matarmaja sekitar Rp161.000 untuk rute ini.

           Apa perbedaanya dengan kereta api Matarmaja ? walaupun sesama jenis kelas ekonomi, 2 kereta api ini mempunyai perbedaan pada interiornya, seperti AC yang ada di kereta api Majapahit menggunakan seperti jenis AC Cassette yang memanjang lurus di setiap gerbong, sedangkan kereta api Matarmaja menggunakan AC Split yang dipasang di beberapa titik gerbong.

           Untuk rute berangkat kereta ini sampai bisa ke tujuan yaitu kurang lebih 15 jam, pada saat menjelang pagi saya beruntung mendapatkan moment sunrise dari dalam kereta. Sunrise itu bisa terlihat dari dalam gerbong kereta api yang saya gunakan di sisi kiri dari arah datangnya kereta. Mungkin ini bisa menjadi rekomendasi kalian untuk memilih posisi booking tempat duduk di kereta.

SAMPAI DI STASIUN MALANG KOTA LAMA


           Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 15 jam di kereta, akhirnya saya sampai di Stasiun Malang Kota Lama. Perjalanan yang cukup lumayan membuat pegal karena hampir seharian duduk di kereta, setelah itu saya bergegas mencari makanan terlebih dahulu. Tidak jauh dari pintu keluar stasiun, saya menemukan soto ayam yang cukup menggoda saya. Kemudian saya membeli soto ayam khas Malang tersebut, rasanya ada sedikit perbedaan dengan soto ayam yang di Jakarta.

           Sesudah makan, saya melanjutkan perjalanan ke kosan saudara saya yang terletak di dekat Universitas Muhammadiyah Malang. Karena niat dari awal memang backpackeran, jadi semua biaya selama perjalanan harus di push agar lebih hemat. Dan menurut saya, biaya yang lumayan menguras kantong adalah penginapan, maka dari itu saya memutuskan untuk menginap di kosan saudara saya.

MENIKMATI WISATA ALUN-ALUN BATU


           Setelah sampai di Malang, saya sempat beristirahat dahulu 1 hari 1 malam di kosan karena merasa sangat lelah dengan perjalanan kemarin. Setelah itu, jalan-jalan pertama yang saya lakukan adalah ke alun-alun batu yang banyak dengan permainan seperti pasar malam dan jajanan makanan maupun minuman yang lumayan memanggil-manggil perasaan supaya membelinya.

           Saya mencoba permainan Ferish Wheel atau biasa juga disebut bianglala, dengan membeli tiket seharga Rp5.000 saya sudah bisa menikmati permainan ini. Dari posisi teratas Ferish Wheel ini saya bisa melihat semua pemandangan alun-alun kota Batu, karena saya naik wahana ini pada malam hari jadi yang terlihat hanya lampu-lampu, mungkin pada siang atau sore bisa terlihat lebih indah.

           Setelah itu, saya mencoba beberapa jajanan disana, seperti minuman kekinian serta makanan crepes. Harga makanan dan minuman disana khususnya di sekitar kota Malang 2x lebih murah dibanding Jakarta. Saya sangat senang ketika mengetahui hal tersebut, karena saya suka jajan jadi bisa lebih banyak membelinya hehe.

KULINERAN DI KOTA MALANG


           Tarraaaaaaaaaa!! ini dia salah satu makanan yang membuat saya jatuh cinta, haha. Jatuh cinta karena kualitas rasa dan harga yang sangat murah parah membuat saya terheran-heran. Kalian tidak bisa mendapatkan kualitas rasa dan harga ini di sekitar Jakarta. Sebenarnya ada beberapa restauran yang menyediakan menu seperti ayam ini, tetapi saya diajak saudara saya untuk mencoba menu ayam ini di restauran Ayam Goreng Nelongso.

           Coba kalian lihat struk pembelian makanan yang saya beli di gambar atas tersebut, dengan uang Rp11.500 kalian bisa mendapatkan ayam bakar, nasi, tahu, lalapan dan sambal. Hanya berbeda Rp1.000 dengan ayam yang tidak dibakar, kualitas rasa nya pun tidak mengecewakan sama seperti dengan kualitas makanan di Jakarta. Restauran ini menyediakan beberapa jenis sambal secara gratis juga, mungkin ini salah satu rekomendasi menu makanan dari saya jika kalian ke Malang nanti.

WISATA PARALAYANG KOTA BATU


           Selanjutnya saya mencoba wisata paralayang yang masih berada di daerah Batu, Malang. Karena memang tidak direncanakan dari awal di Jakarta, saya tidak begitu tertarik menikmati wisata di sekitar daerah Batu pada siang hari. Jadi beberapa tempat hanya saya kunjungi pada malam hari, saya tidak bisa berbagi cerita dan foto dengan kondisi pada siang hari.

           Ohiya, ini yang perlu diperhatikan jika kalian berangkat malam hari ke Paralayang, jalananya sangat sepi, gelap dan seram sekali. Saya rekomendasikan untuk berangkat minimal 4 orang menggunakan motor, karena selama perjalanan melewati hutan yang mana di sampingnya terdapat jurang. Untuk yang sudah terbiasa ke daerah tersebut mungkin biasa saja, tetapi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan disarankan seperti itu.


           Disana ada beberapa kedai yang menyediakan menu makanan dan kopi. Lalu, saya mampir ke salah satu kedai kopi dan duduk bersantai menikmati sejuknya udara di wisata paralayang tersebut. Sekitar jam 8 malam di wisata paralayang ini masih terlihat sepi, awalnya saya kira memang biasanya seperti ini. Ternyata semakin malam malah semakin ramai dengan anak-anak remaja yang datang yaitu sekitar jam 10.

           Anak-anak remaja tersebut banyak yang berfoto-foto di pinggir trek paralayang, viewnya cukup bagus ketika kabut sudah mulai pergi. Terlihat lampu-lampu yang menerangi daerah Batu, mungkin dengan kamera dan teknik foto yang baik bisa menghasilkan foto yang bagus di tempat ini. Setelah sekitar 3 jam saya duduk bersantai sambil menikmati kopi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

           Mungkin itu saja cerita saya selama dari Jakarta ke Malang dan Batu. Setelah ini saya akan melanjutkan cerita perjalanan saya ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena isi di tulisan ini sudah terlalu banyak, jadi saya putuskan untuk membuat cerita tentang Bromo di tulisan selanjutnya. Sekian, terima kasih.

24 September 2019

Berkunjung ke Situs Gunung Padang, Jawa Barat


           Halo teman-teman, di tulisan blog yang kedua ini saya akan membahas tempat wisata Situs Gunung Padang yang terletak di Cianjur, Jawa Barat. Saya berkunjung pada 31 Oktober 2018, disini saya akan bercerita mulai dari awal memasuki tempat wisata, harga tiket, spot foto, dan hal lain yang ada disana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya dibawah ini.

LATAR BELAKANG SITUS GUNUNG PADANG


           Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 mdpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

SEBELUM MASUK GERBANG SITUS GUNUNG PADANG


           Setelah saya sampai di parkiran kendaraan di depan gerbang Situs Gunung Padang, saya memutuskan untuk makan terlebih dahulu karena saya dan teman-teman sudah merasa lapar. Disana ada beberapa warung dan penjual makanan gerobak yang menyediakan beberapa menu makanan untuk para pengunjung yang datang. Setelah sedikit bingung memilih makanan, akhirnya kita memutuskan untuk makan nasi goreng yang sangat menggoda seperti di gambar atas.

           Waktu itu udara disana terasa sejuk karena cuaca sedikit berawan dan mendung. Orang-orang sekitarnya pun terlihat ramah, membuat suasana terasa lebih damai yang di dukung dengan adanya pepohonan rindang menjulang tinggi.

TEMPAT LOKET SITUS GUNUNG PADANG


           Setelah selesai makan, kita bergegas untuk membeli tiket masuk yang tersedia di loket depan gerbang. Tiket masuk yang harus saya bayar per 31 Oktober 2018, yaitu sebagai berikut :

-Tiket Masuk : Rp5.000
-Tiket Parkir Motor : Rp3.000
-Tiket Parkir Mobil : Rp10.000

           Kemudian kita melanjutkan masuk ke dalam Situs Gunung Padang, pada awal masuk gerbang saya sempat berbincang dengan salah satu kuncen (juru kunci) mengenai Situs Gunung Padang ini. Akses menuju Situs Gunung Padang yang terletak di Kabupaten Cianjur ini semakin membaik dengan adanya perlebaran jalan menuju tempat tersebut.

PERJALANAN MENUJU SITUS GUNUNG PADANG


           Ketika kamu berkunjung ke Situs Gunung Padang, kalian akan dijelaskan oleh pengurus/kuncen disana mengenai awal ditemukanya Situs Gunung Padang tersebut. Dari info yang saya dapat dari pengurus Situs Gunung Padang, nantinya lahan parkir kendaraan akan diadakan di kebun teh yang berada sebelum Situs Gunung Padang berada.

           Kemudian pengunjung akan diantar menggunakan mobil (sejenis mobil golf yang panjang) sampai ke Situs Gunung Padang. Dan planning yang mungkin masih lama adalah diadakanya fasilitas "Kereta Gantung" di Situs Gunung Padang. Dengan alasan, menghindari dari sentuhan tangan manusia yang masih sendiri (baca: jomblo) maupun sudah mempunyai pasangan.. bercanda hehe. Demikian info yang saya dapat sesuai keterangan Pengurus/Kuncen Situs Gunung Padang.

VIEW SITUS GUNUNG PADANG


           Sesampainya di puncak pertama Situs Gunung Padang, saya merasa takjub melihat banyaknya bebatuan yang berada disini. Hal yang pertama kali terpikirkan adalah bagaimana proses manusia jaman dahulu menyusun batu-batu sampai ke atas bukit ini dan jenis batunya pun berbeda. Ketika kamu mengetuk batu tersebut, batu itu menimbulkan suara yang khas seperti tidak ada isi tetapi batu tersebut terasa berat.

           Adapun larangan-larangan yang berlaku di Situs Gunung Padang, kita tidak boleh duduk di batu tersebut, tidak boleh mencoret-coret dan masih banyak lagi peraturan-peraturan yang dibuat oleh PERDES disana. Kalian bisa mengetahui peraturanya di tiket masuk yang kamu beli, semoga Situs Gunung Padang selalu bisa dijaga dan dirawat oleh pengurus maupun pengunjung yang datang kesana.

          Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan berdasarkan pengalaman saya ke Situs Gunung Padang pada 31 Oktorber 2018. Semoga cerita ini bisa berkesan dan bermanfaat untuk para pembaca blog saya. Sekian, terima kasih.

16 September 2019

Menyusuri Jembatan Situ Gunung & Curug Sawer di Jawa Barat


           Halo teman-teman, perkenalkan saya Fajri. Ini tulisan blog pertama saya, yaitu tentang Jembatan Suspension Bridge dan Curug Sawer yang terletak di Sukabumi, Jawa Barat. Disini saya akan bercerita mulai dari awal memasuki tempat wisata, harga tiket, spot foto, dan hal lain yang ada disana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya dibawah ini.

LATAR BELAKANG JEMBATAN SITU GUNUNG








         
           Suspension Bridge atau Jembatan Gantung ini terletak di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Sukabumi, Jawa Barat. Jembatan yang dibangun di atas pepohonan ini panjangnya mencapai 240 meter dengan lebar 2 meter, serta dari permukaan tanah paling tinggi mencapai 161 meter. Kalian akan dimanjakan dengan adanya pemandangan pepohonan rindang ditambah dengan udara yang sejuk. Buat kalian yang belum pernah kesini, pasti akan dibuat penasaran karena jembatan situ gunung ini akan memacu adrenaline kamu, khususnya pada orang yang takut ketinggian.

HARGA TIKET MASUK JEMBATAN SITU GUNUNG

         
           Sesudah saya memasuki pintu gerbang pertama, disana ada tempat untuk parkir kendaraan, toilet serta beberapa warung untuk membeli makanan dan lain-lain. Waktu itu, saya datang sekitar jam 10.00 WIB pagi cuaca terasa sejuk dan sepi. Mungkin karena saya datang pada saat hari biasa dan belum banyak yang berkunjung kesini. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya beristirahat sejenak untuk mempersiapkan diri sebelum menelusuri jalan ke Suspension Bridge dan Curug Sawer.

Ada 2 tiket masuk yang harus saya bayar per 31 Oktober 2018, yaitu sebagai berikut :

-Tiket Masuk Gerbang : Rp16.000/orang (Hanya sebatas kantin sampai parkir kendaraan saja).
-Tiket Masuk Wisata : Rp50.000/orang (Sudah bisa menikmati Suspension Bridge sampai Curug Sawer, termasuk dapat free teh/kopi, pisang rebus, ubi rebus, singkong rebus dan bisa refill).

PINTU MASUK JEMBATAN SITU GUNUNG


         
           Setelah beberapa menit, saya dengan teman-teman melanjutkan perjalanan ke Suspension Bridge dan Curug Sawer. Pertama saya harus membeli tiket masuk terlebih dahulu seharga Rp50.000/orang, setelah itu tap ke mesin karcis seperti di stasiun kereta. Ketika melihat itu, menurut saya sudah ada perkembangan yang baik dalam menyiapkan fasilitas ke dalam tempat wisata tersebut di tahun 2018.

           Kemudian kita berjalanan mengikuti jalan setapak yang mengarah ke suatu tempat singgah yang besar seperti shelter, awalnya saya tidak tahu tempat itu untuk apa karena posisi nya agak lebih tinggi dari jalan setapak yang saya lewati, dengan cuek saya tetap berjalan melewati tempat tersebut.

JEMBATAN SITU GUNUNG / SUSPENSION BRIDGE

         
           Tidak jauh dari shelter, akhirnya saya sampai di pintu masuk Suspension Bridge. Saya berjumpa dengan penjaga yang bertugas mempersiapkan perlengkapan kepada pengunjung. Disana saya ditawari untuk memakai alat safety yang diikat di pinggang seperti atlet panjat tebing, awalnya saya pakai tetapi pada saat di jembatan saya minta lepas karena agak repot memakai alat tersebut.

VIEW JEMBATAN SITU GUNUNG

         
           Saya sarankan untuk kalian yang mau kesini, kalau bisa datang pada weekdays saja (senin-jum'at) karena pengunjung akan lebih sepi dibanding weekend. Kalian bisa lebih bebas untuk mengambil foto di jembatannya, jika kebanyakan orang akan membuat jembatan tersebut bergoyang sehingga tidak fokus untuk mengambil foto.

           Setelah saya puas berfoto-foto di jembatan, saya melanjutkan perjalanan ke Curug Sawer. Perjalananya sedikit agak jauh tetapi terasa sebentar karena kita disuguhkan dengan keindahan pepohonan hutan sebelum sampai Curug Sawer. Kira-kira 10-15 menit dari Jembatan Situ Gunung, akhirnya saya sampai di Curug Sawer.

CURUG SAWER

         
           Sekilas info tentang Curug Sawer, air terjun ini memiliki tinggi 35 meter dan berada pada ketinggian 1025 mdpl. Sebelum sampai di Curug Sawer, kalian akan melewati jalan setapak dari Jembatan Situ Gunung ke Curug Sawer. Bagi saya udaranya terasa sejuk dan suasananya membuat hati damai, karena tidak bising seperti di kota-kota. Tempat ini cocok untuk kalian yang agak merasa stres dengan kesibukan di perkotaan. Tapi, perlu jaga hati juga untuk kalian yang masih jomblo karena banyak pasangan yang berfoto disini hehe.

VIEW CURUG SAWER



         
           Nahh seperti inilah view di Curug Sawer, saya bisa mengambil gambar dengan dekat di air terjunya. Angin disini terasa cukup kencang karena hempasan air terjun yang jatuh dari ketinggian 35 meter. Semoga untuk kalian yang belum pernah datang kesini bisa cepat mengunjungi tempat wisata yang keren satu ini di Sukabumi, Jawa Barat.

           Setelah menikmati dan berfoto-foto di Curug Sawer, saya melanjutkan perjalanan pulang melewati Jembatan Situ Gunung lagi. Perjalanan pulang terasa lebih capai karena kita harus mengikuti track yang menanjak, berbeda dengan perjalanan ke Curug Sawer dan itu membuat saya ngos-ngosan haha.

SHELTER JEMBATAN SITU GUNUNG

         
           Seperti cerita saya di awal, dengan membayar tiket wisata Rp50.000 kita akan sudah bisa menikmati Suspension Bridge sampai Curug Sawer, termasuk dapat free teh/kopi, pisang rebus, ubi rebus, singkong rebus dan bisa refill. Rasa lelah dalam perjalanan ke 2 tempat wisata tadi rasanya bisa di hilangkan dengan menikmati cemilan dan teh hangat di shelter ini.

           Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan berdasarkan pengalaman saya ke Jembatan Situ Gunung dan Curug Sawer pada 31 Oktober 2018. Semoga cerita ini bisa berkesan dan bermanfaat untuk para pembaca blog saya. Sekian, Terima Kasih.