Halo teman-teman, kali ini saya akan membahas tentang traveling selama di kota Malang. Saya melakukan solo backpacker ke Malang selama 7 hari dari tanggal 24-30 September 2019, disini saya akan bercerita saat mulai berangkat dari Jakarta sampai di Malang serta hal lainnya selama berada disana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya dibawah ini.
Banyak hal yang berkesan selama perjalanan saya ke Malang, mulai naik ojek online sampai berbincang dengan orang-orang yang sebangku di kereta. Alhamdulillah hal itu menambah wawasan saya, contohnya seperti kopi kacang hijau yang ada di daerah Tulungagung. Ternyata disana banyak warkop (warung kopi) dengan sajian biji kopi khas daerah tersebut, biasanya warkop disana dilengkapi dengan wifi dengan target pasar komunitas pecinta burung dan para gamers.
PERJALANAN DARI JAKARTA KE MALANG
Saya melakukan solo backpacker dari Jakarta ke Malang PP menggunakan transportasi kereta api untuk perjalanan pergi dan pulang. Kenapa saya menggunakan kereta api ? karena saya lebih suka menggunakan transportasi kereta api dibanding transportasi lainnya walaupun dari segi waktu memang cukup memakan banyak waktu tetapi dari segi biaya lebih murah dibanding menggunakan pesawat dan bis. Saya akan menjelaskan secara rinci berapa biaya yang saya keluarkan untuk transportasi dari Jakarta ke Malang PP menggunakan kereta api.
Harga tiket kereta yang saya pesan melalui apps tiketing per september 2019, sebagai berikut :
- Majapahit : Rp270.000 (Pergi)
- Matarmaja : Rp109.000 (Pulang)
- Pajak : Rp15.000
- Voucher Promo : Rp78.800
Total Biaya : Rp315.200
Note : Sebelumnya saya melakukan survey beberapa apps tiketing untuk mencari voucher promo yang terbesar, dan akhirnya saya menemukan diskon 20% dari total harga tiket di apps Mister Aladin.
VIEW SUNRISE DI PERJALANAN KE MALANG
Ini adalah perjalanan solo backpacker pertama saya serta pertama kalinya juga ke daerah Jawa Timur, sedikit cuek dan nekat untuk melakukan perjalanan kali ini. Saya berangkat dari Jakarta (St. Pasar Senen) ke Malang (St. Malang Kota Lama) menggunakan kereta api Majapahit, dari segi harga terlihat perbedaan yang cukup lumayan dengan kereta api Matarmaja sekitar Rp161.000 untuk rute ini.
Apa perbedaanya dengan kereta api Matarmaja ? walaupun sesama jenis kelas ekonomi, 2 kereta api ini mempunyai perbedaan pada interiornya, seperti AC yang ada di kereta api Majapahit menggunakan seperti jenis AC Cassette yang memanjang lurus di setiap gerbong, sedangkan kereta api Matarmaja menggunakan AC Split yang dipasang di beberapa titik gerbong.
Untuk rute berangkat kereta ini sampai bisa ke tujuan yaitu kurang lebih 15 jam, pada saat menjelang pagi saya beruntung mendapatkan moment sunrise dari dalam kereta. Sunrise itu bisa terlihat dari dalam gerbong kereta api yang saya gunakan di sisi kiri dari arah datangnya kereta. Mungkin ini bisa menjadi rekomendasi kalian untuk memilih posisi booking tempat duduk di kereta.
SAMPAI DI STASIUN MALANG KOTA LAMA
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 15 jam di kereta, akhirnya saya sampai di Stasiun Malang Kota Lama. Perjalanan yang cukup lumayan membuat pegal karena hampir seharian duduk di kereta, setelah itu saya bergegas mencari makanan terlebih dahulu. Tidak jauh dari pintu keluar stasiun, saya menemukan soto ayam yang cukup menggoda saya. Kemudian saya membeli soto ayam khas Malang tersebut, rasanya ada sedikit perbedaan dengan soto ayam yang di Jakarta.
Sesudah makan, saya melanjutkan perjalanan ke kosan saudara saya yang terletak di dekat Universitas Muhammadiyah Malang. Karena niat dari awal memang backpackeran, jadi semua biaya selama perjalanan harus di push agar lebih hemat. Dan menurut saya, biaya yang lumayan menguras kantong adalah penginapan, maka dari itu saya memutuskan untuk menginap di kosan saudara saya.
MENIKMATI WISATA ALUN-ALUN BATU
Setelah sampai di Malang, saya sempat beristirahat dahulu 1 hari 1 malam di kosan karena merasa sangat lelah dengan perjalanan kemarin. Setelah itu, jalan-jalan pertama yang saya lakukan adalah ke alun-alun batu yang banyak dengan permainan seperti pasar malam dan jajanan makanan maupun minuman yang lumayan memanggil-manggil perasaan supaya membelinya.
Saya mencoba permainan Ferish Wheel atau biasa juga disebut bianglala, dengan membeli tiket seharga Rp5.000 saya sudah bisa menikmati permainan ini. Dari posisi teratas Ferish Wheel ini saya bisa melihat semua pemandangan alun-alun kota Batu, karena saya naik wahana ini pada malam hari jadi yang terlihat hanya lampu-lampu, mungkin pada siang atau sore bisa terlihat lebih indah.
Setelah itu, saya mencoba beberapa jajanan disana, seperti minuman kekinian serta makanan crepes. Harga makanan dan minuman disana khususnya di sekitar kota Malang 2x lebih murah dibanding Jakarta. Saya sangat senang ketika mengetahui hal tersebut, karena saya suka jajan jadi bisa lebih banyak membelinya hehe.
KULINERAN DI KOTA MALANG
Tarraaaaaaaaaa!! ini dia salah satu makanan yang membuat saya jatuh cinta, haha. Jatuh cinta karena kualitas rasa dan harga yang sangat murah parah membuat saya terheran-heran. Kalian tidak bisa mendapatkan kualitas rasa dan harga ini di sekitar Jakarta. Sebenarnya ada beberapa restauran yang menyediakan menu seperti ayam ini, tetapi saya diajak saudara saya untuk mencoba menu ayam ini di restauran Ayam Goreng Nelongso.
Coba kalian lihat struk pembelian makanan yang saya beli di gambar atas tersebut, dengan uang Rp11.500 kalian bisa mendapatkan ayam bakar, nasi, tahu, lalapan dan sambal. Hanya berbeda Rp1.000 dengan ayam yang tidak dibakar, kualitas rasa nya pun tidak mengecewakan sama seperti dengan kualitas makanan di Jakarta. Restauran ini menyediakan beberapa jenis sambal secara gratis juga, mungkin ini salah satu rekomendasi menu makanan dari saya jika kalian ke Malang nanti.
WISATA PARALAYANG KOTA BATU
Selanjutnya saya mencoba wisata paralayang yang masih berada di daerah Batu, Malang. Karena memang tidak direncanakan dari awal di Jakarta, saya tidak begitu tertarik menikmati wisata di sekitar daerah Batu pada siang hari. Jadi beberapa tempat hanya saya kunjungi pada malam hari, saya tidak bisa berbagi cerita dan foto dengan kondisi pada siang hari.
Ohiya, ini yang perlu diperhatikan jika kalian berangkat malam hari ke Paralayang, jalananya sangat sepi, gelap dan seram sekali. Saya rekomendasikan untuk berangkat minimal 4 orang menggunakan motor, karena selama perjalanan melewati hutan yang mana di sampingnya terdapat jurang. Untuk yang sudah terbiasa ke daerah tersebut mungkin biasa saja, tetapi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan disarankan seperti itu.
Ohiya, ini yang perlu diperhatikan jika kalian berangkat malam hari ke Paralayang, jalananya sangat sepi, gelap dan seram sekali. Saya rekomendasikan untuk berangkat minimal 4 orang menggunakan motor, karena selama perjalanan melewati hutan yang mana di sampingnya terdapat jurang. Untuk yang sudah terbiasa ke daerah tersebut mungkin biasa saja, tetapi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan disarankan seperti itu.
Disana ada beberapa kedai yang menyediakan menu makanan dan kopi. Lalu, saya mampir ke salah satu kedai kopi dan duduk bersantai menikmati sejuknya udara di wisata paralayang tersebut. Sekitar jam 8 malam di wisata paralayang ini masih terlihat sepi, awalnya saya kira memang biasanya seperti ini. Ternyata semakin malam malah semakin ramai dengan anak-anak remaja yang datang yaitu sekitar jam 10.
Anak-anak remaja tersebut banyak yang berfoto-foto di pinggir trek paralayang, viewnya cukup bagus ketika kabut sudah mulai pergi. Terlihat lampu-lampu yang menerangi daerah Batu, mungkin dengan kamera dan teknik foto yang baik bisa menghasilkan foto yang bagus di tempat ini. Setelah sekitar 3 jam saya duduk bersantai sambil menikmati kopi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang.
Mungkin itu saja cerita saya selama dari Jakarta ke Malang dan Batu. Setelah ini saya akan melanjutkan cerita perjalanan saya ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena isi di tulisan ini sudah terlalu banyak, jadi saya putuskan untuk membuat cerita tentang Bromo di tulisan selanjutnya. Sekian, terima kasih.







0 comments:
Post a Comment