13 October 2019

Solo Backpacker #Part2 - Pertama Kali ke Gunung Bromo


           Halo teman-teman, di tulisan blog kali ini saya akan melanjutkan cerita dari tulisan sebelumnya tentang Solo Backpacker Ke Malang & Batu. Saya akan menceritakan perjalanan mulai dari Malang sampai ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan menggunakan motocross, serta biaya-biaya apa saja yang saya keluarkan untuk bisa pergi kesana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya di bawah ini.

LATAR BELAKANG GUNUNG BROMO


           Gunung Bromo atau dalam bahasa Tengger dieja "Brama", adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakin Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.

           Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi, Ia mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. (Sumber : Wikipedia)

PERJALANAN MENUJU GUNUNG BROMO


           Pertama, saya mencari sewa motocross dari daerah Universitas Muhammadiyah Malang. Setelah mencari-cari akhirnya saya mendapatkan sewa untuk 2 motocross selama 1 hari. Saya berangkat dari daerah UMM sekitar jam 01.30 WIB pagi dan mengendarai dengan kecepatan rata-rata 40km/jam yang rencana nya melewati jalur belakang yang tembus langsung ke penanjakan Gunung Bromo.

           Ternyata setelah hampir sampai di dekat daerah penanjakan, jalan yang saya lalui ditutup karena ada pengaspalan jalan. Sampai disana sekitar jam 03.30 WIB pagi menjelang subuh, dengan terpaksa saya harus memutar balik ke arah Tumpang yang cukup lumayan jauh. Akhirnya saya balik arah dan adzan subuh pun berkumandang, saya memutuskan untuk sholat di masjid terlebih dahulu.

           Setelah itu saya melanjutkan perjalanan lagi, dalam perjalanan putar balik saya sudah pada jam 04.30 WIB pagi, dengan menyesal saya tidak bisa mendapatkan moment sunrise Gunung Bromo karena tidak sempat untuk mengejar waktu sampai gerbang tumpang. Akhirnya saya tetap melanjutkan perjalanan dan sampai gerbang tumpang sekitar jam 07.00 WIB pagi.

TEMPAT LOKET GERBANG TUMPANG


           Setelah saya sampai di pintu gerbang tumpang, selanjutnya saya membeli tiket di loket seperti yang ada di foto atas. Kalian bisa membaca untuk info harga tiket yang disediakan oleh pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Berikut rincian biaya yang saya keluarkan mulai dari sewa motor sampai pada saat membeli tiket masuk Bromo, sebagai berikut :

- Motocross : Rp250.000/hari (exclude bensin/dapet sisaan dari penyewa sebelumnya)
- Tiket Masuk Motor : Rp5.000/motor
- Tiket Masuk Tumpang : Rp.22.500/orang

Note : Harga tiket masuk pada weekdays dan weekend itu berbeda ya teman-teman, dan untuk harga tiket domestik dan non-domestik juga berbeda. Jadi dibaca terlebih dahulu gambar diatas yaa.

SAMPAI DI TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU


           Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dengan menggunakan motocross selama ± 8 jam karena terlalu santai dan beberapa masalah membuat perjalanan saya sangat terganggu. Akhirnya saya sampai di Gunung Bromo, pertama kali masuk kawasan Gunung Bromo saya merasa takjub dengan keindahan nya.

           Sesampai nya disana, saya mencari tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak sambil menyantap makan siang yang dibawa semenjak awal berangkat. Tidak lama saya beristirahat di tempat ini ternyata ada yang melakukan sesi foto prewed. Heem, hawa-hawa baper mulai menyelimuti hati saya waktu itu, karena saya jadi ingin melakukan foto prewed juga disini.


           Setelah cukup lama bersantai di dekat gerbang masuk kawasan Gunung Bromo, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Tidak mudah untuk sampai ke Gunung Bromo ini, karena kamu akan melewati labilnya lautan pasir yang menyulitkan para pemotor cross untuk bisa sampai ke Gunung Bromo. Kamu di wajibkan untuk memakai motocross karena jika kamu menggunakan selain motocross itu akan lebih sangat sulit bisa cepat sampai ke Gunung Bromo.

           Cukup memakan waktu untuk melewati lautan pasir ini, karena beberapa kali saya harus berhenti karena jatuh. Tapi kamu juga bisa melihat keindahan lembah atau tebing yang terlihat seperti lukisan tangan manusia, jika kamu kesini untuk pertama kali pasti akan takjub melihatnya. Dan akhirnya setelah cukup lama, saya sampai di dekat Gunung Bromo. Tidak lupa saya mengabadikan moment ini beberapa kali untuk bisa update di sosial media, hehe.

           Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan sesuai dengan perjalanan yang saya alami waktu itu, untuk kamu yang ingin kesini jangan lupa utamakan keselamatan ya. Terima kasih sudah membaca blog ini, jangan lupa untuk membaca tulisan blog saya selanjutnya.

12 October 2019

Solo Backpacker #Part1 - Mengelilingi Kota Malang & Batu


           Halo teman-teman, kali ini saya akan membahas tentang traveling selama di kota Malang. Saya melakukan solo backpacker ke Malang selama 7 hari dari tanggal 24-30 September 2019, disini saya akan bercerita saat mulai berangkat dari Jakarta sampai di Malang serta hal lainnya selama berada disana. Oke teman-teman, langsung saja baca cerita saya dibawah ini.

           Banyak hal yang berkesan selama perjalanan saya ke Malang, mulai naik ojek online sampai berbincang dengan orang-orang yang sebangku di kereta. Alhamdulillah hal itu menambah wawasan saya, contohnya seperti kopi kacang hijau yang ada di daerah Tulungagung. Ternyata disana banyak warkop (warung kopi) dengan sajian biji kopi khas daerah tersebut, biasanya warkop disana dilengkapi dengan wifi dengan target pasar komunitas pecinta burung dan para gamers.

PERJALANAN DARI JAKARTA KE MALANG


           Saya melakukan solo backpacker dari Jakarta ke Malang PP menggunakan transportasi kereta api untuk perjalanan pergi dan pulang. Kenapa saya menggunakan kereta api ? karena saya lebih suka menggunakan transportasi kereta api dibanding transportasi lainnya walaupun dari segi waktu memang cukup memakan banyak waktu tetapi dari segi biaya lebih murah dibanding menggunakan pesawat dan bis. Saya akan menjelaskan secara rinci berapa biaya yang saya keluarkan untuk transportasi dari Jakarta ke Malang PP menggunakan kereta api.

Harga tiket kereta yang saya pesan melalui apps tiketing per september 2019, sebagai berikut :

- Majapahit : Rp270.000 (Pergi)
- Matarmaja : Rp109.000 (Pulang)
- Pajak : Rp15.000
- Voucher Promo : Rp78.800

Total Biaya : Rp315.200

Note : Sebelumnya saya melakukan survey beberapa apps tiketing untuk mencari voucher promo yang terbesar, dan akhirnya saya menemukan diskon 20% dari total harga tiket di apps Mister Aladin.

VIEW SUNRISE DI PERJALANAN KE MALANG


           Ini adalah perjalanan solo backpacker pertama saya serta pertama kalinya juga ke daerah Jawa Timur, sedikit cuek dan nekat untuk melakukan perjalanan kali ini. Saya berangkat dari Jakarta (St. Pasar Senen) ke Malang (St. Malang Kota Lama) menggunakan kereta api Majapahit, dari segi harga terlihat perbedaan yang cukup lumayan dengan kereta api Matarmaja sekitar Rp161.000 untuk rute ini.

           Apa perbedaanya dengan kereta api Matarmaja ? walaupun sesama jenis kelas ekonomi, 2 kereta api ini mempunyai perbedaan pada interiornya, seperti AC yang ada di kereta api Majapahit menggunakan seperti jenis AC Cassette yang memanjang lurus di setiap gerbong, sedangkan kereta api Matarmaja menggunakan AC Split yang dipasang di beberapa titik gerbong.

           Untuk rute berangkat kereta ini sampai bisa ke tujuan yaitu kurang lebih 15 jam, pada saat menjelang pagi saya beruntung mendapatkan moment sunrise dari dalam kereta. Sunrise itu bisa terlihat dari dalam gerbong kereta api yang saya gunakan di sisi kiri dari arah datangnya kereta. Mungkin ini bisa menjadi rekomendasi kalian untuk memilih posisi booking tempat duduk di kereta.

SAMPAI DI STASIUN MALANG KOTA LAMA


           Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 15 jam di kereta, akhirnya saya sampai di Stasiun Malang Kota Lama. Perjalanan yang cukup lumayan membuat pegal karena hampir seharian duduk di kereta, setelah itu saya bergegas mencari makanan terlebih dahulu. Tidak jauh dari pintu keluar stasiun, saya menemukan soto ayam yang cukup menggoda saya. Kemudian saya membeli soto ayam khas Malang tersebut, rasanya ada sedikit perbedaan dengan soto ayam yang di Jakarta.

           Sesudah makan, saya melanjutkan perjalanan ke kosan saudara saya yang terletak di dekat Universitas Muhammadiyah Malang. Karena niat dari awal memang backpackeran, jadi semua biaya selama perjalanan harus di push agar lebih hemat. Dan menurut saya, biaya yang lumayan menguras kantong adalah penginapan, maka dari itu saya memutuskan untuk menginap di kosan saudara saya.

MENIKMATI WISATA ALUN-ALUN BATU


           Setelah sampai di Malang, saya sempat beristirahat dahulu 1 hari 1 malam di kosan karena merasa sangat lelah dengan perjalanan kemarin. Setelah itu, jalan-jalan pertama yang saya lakukan adalah ke alun-alun batu yang banyak dengan permainan seperti pasar malam dan jajanan makanan maupun minuman yang lumayan memanggil-manggil perasaan supaya membelinya.

           Saya mencoba permainan Ferish Wheel atau biasa juga disebut bianglala, dengan membeli tiket seharga Rp5.000 saya sudah bisa menikmati permainan ini. Dari posisi teratas Ferish Wheel ini saya bisa melihat semua pemandangan alun-alun kota Batu, karena saya naik wahana ini pada malam hari jadi yang terlihat hanya lampu-lampu, mungkin pada siang atau sore bisa terlihat lebih indah.

           Setelah itu, saya mencoba beberapa jajanan disana, seperti minuman kekinian serta makanan crepes. Harga makanan dan minuman disana khususnya di sekitar kota Malang 2x lebih murah dibanding Jakarta. Saya sangat senang ketika mengetahui hal tersebut, karena saya suka jajan jadi bisa lebih banyak membelinya hehe.

KULINERAN DI KOTA MALANG


           Tarraaaaaaaaaa!! ini dia salah satu makanan yang membuat saya jatuh cinta, haha. Jatuh cinta karena kualitas rasa dan harga yang sangat murah parah membuat saya terheran-heran. Kalian tidak bisa mendapatkan kualitas rasa dan harga ini di sekitar Jakarta. Sebenarnya ada beberapa restauran yang menyediakan menu seperti ayam ini, tetapi saya diajak saudara saya untuk mencoba menu ayam ini di restauran Ayam Goreng Nelongso.

           Coba kalian lihat struk pembelian makanan yang saya beli di gambar atas tersebut, dengan uang Rp11.500 kalian bisa mendapatkan ayam bakar, nasi, tahu, lalapan dan sambal. Hanya berbeda Rp1.000 dengan ayam yang tidak dibakar, kualitas rasa nya pun tidak mengecewakan sama seperti dengan kualitas makanan di Jakarta. Restauran ini menyediakan beberapa jenis sambal secara gratis juga, mungkin ini salah satu rekomendasi menu makanan dari saya jika kalian ke Malang nanti.

WISATA PARALAYANG KOTA BATU


           Selanjutnya saya mencoba wisata paralayang yang masih berada di daerah Batu, Malang. Karena memang tidak direncanakan dari awal di Jakarta, saya tidak begitu tertarik menikmati wisata di sekitar daerah Batu pada siang hari. Jadi beberapa tempat hanya saya kunjungi pada malam hari, saya tidak bisa berbagi cerita dan foto dengan kondisi pada siang hari.

           Ohiya, ini yang perlu diperhatikan jika kalian berangkat malam hari ke Paralayang, jalananya sangat sepi, gelap dan seram sekali. Saya rekomendasikan untuk berangkat minimal 4 orang menggunakan motor, karena selama perjalanan melewati hutan yang mana di sampingnya terdapat jurang. Untuk yang sudah terbiasa ke daerah tersebut mungkin biasa saja, tetapi untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan disarankan seperti itu.


           Disana ada beberapa kedai yang menyediakan menu makanan dan kopi. Lalu, saya mampir ke salah satu kedai kopi dan duduk bersantai menikmati sejuknya udara di wisata paralayang tersebut. Sekitar jam 8 malam di wisata paralayang ini masih terlihat sepi, awalnya saya kira memang biasanya seperti ini. Ternyata semakin malam malah semakin ramai dengan anak-anak remaja yang datang yaitu sekitar jam 10.

           Anak-anak remaja tersebut banyak yang berfoto-foto di pinggir trek paralayang, viewnya cukup bagus ketika kabut sudah mulai pergi. Terlihat lampu-lampu yang menerangi daerah Batu, mungkin dengan kamera dan teknik foto yang baik bisa menghasilkan foto yang bagus di tempat ini. Setelah sekitar 3 jam saya duduk bersantai sambil menikmati kopi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

           Mungkin itu saja cerita saya selama dari Jakarta ke Malang dan Batu. Setelah ini saya akan melanjutkan cerita perjalanan saya ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena isi di tulisan ini sudah terlalu banyak, jadi saya putuskan untuk membuat cerita tentang Bromo di tulisan selanjutnya. Sekian, terima kasih.